Rabu, 05 November 2014

Hamka: Lakukan Pendataan Aset Wakaf untuk Pemberdayaan Secara Optimal


Cilegon, bimasislamJumlah tanah wakaf yang begitu banyak, diperlukanupaya pendataan yang maksimal untuk memanfaatkan seoptimal mungkin.Aset wakaf bukan cuma barang yang diberikan oleh Wakif untuk cuma-cumatetapi wakaf harusdiperdayakan untukkesejahteraanmasyarakatkhususnya umat Islam,bahkan dapat meningkatkan pendapatan negara melalui potensi wakaf tersebut.Demikian dikatakan Direktur Pemberdayaan Wakaf, Drs. H. Hamka, MA, dalam kegiatan Temu Konsultasi Pemberdayaan Wakaf di Hotel Royale Krakatau, Cilegon(11/05).

Lebih lanjut Hamka menuturkan, sebagai perbandingan, perolehandana zakat tahun 2012 sekitar 1,1 Triliyun, dan mengalami peningkatan menjadi 2,2 Triliyun tahun 2012. Iniartinya,potensi zakat terusberkembang dalam setahun. Tentu hal yang sama, asettanah wakaf  435.395 lokasi, dan mungkin akan berkembang terus.Jika melihat negeri Jiran Singapura yang mampu memberdayakan wakaf secara produktif,maka kita pun seharusnya bisa.

Di lihat daripotensi,jumlah tanah wakaf kita sangatmembanggakan.Hanya saja belum diotimalkan dengan baik.“Beberapa waktu silam,IDB (International Development Bank) menjajagi kemungkinan menjalin kerja sama denganKementerian Agamadan menandatangiMoU (memorandum of understanding) dengan IDB. Ini merupakan kesempatan bagus untuk kita agar aset wakaf dapat dikembangkan”, jelasnya.

Namun,imbuh Hamka,kita harus lebih dulu melakukanpendataan sebagai pijakan dalam pengembangan wakaf ke depan.Beberapa upaya kita untuk memberdayakan seperti pembangunanhotel, Rumah Sakit,  Ruang  Pertemuan, SPBU (di Tangerang salah satunya), peternakan dan sebagainya perlu kita teruskan,tutur manta Direktur Pemberdayaan Wakaf ini.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian, bahwa banyakaset wakaf yang bernilai ekonomi tinggi dalam sebuah wilayah, tiba-tibaahli waris ingin mengambil kembali.Yang lebih menyedihkan, tenyata tanah tersebut belum dibuatkan AIW-nya, sehingga ketika diajukan ke pengadilan, kalah. Inimenjadi tugas Kementerian Agama agar seluruh aset wakaf dilakukan pendataan secara cermat dan didorong agar seluruhnya memiliki AIW dan sertifikat, ujarnya. (asf/foto:bimasislam)

sumber: http://bimasislam.kemenag.go.id/post/tokoh

Menag Lepas Wamen: Pak Nasar Berkontribusi Kembangkan Nilai-nilai di Kemenag

Jakarta, bimasislamKabinet Kerja Jokowi-JK telah dilantik pada tanggal 27 Oktober 2014 lalu. Dalam komposisi Kabinet Periode 2014-2019 ini, tidak ada lagi Jabatan Wakil Menteri Agama. Karena itulah, Sekretariat Jenderal Kemenag Nur Syam berinisiatif mengadakan Acara Pelepasan secara resmi untuk (Mantan) Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Dalam sambutannya sebagai Ketua Panitia Nur Syam menyatakan, “Sesungguhnya acara ini merupakan momen untuk saling berterima kasih dan saling memohon maaf antara Pejabat-pejabat Kemenag yang ada dengan Pak Wamen”. Pelepasan dalam artian karena Pak Wamen tidak lagi aktif sehari-hari di Kemenag, imbuhnya.

“Saya juga mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan selama menjabat di Kemenag, dan berterima kasih atas segala dukungan dan kerjasama semua pihak”, ungkap Nasaruddin Umar saat diberikan kesempatan untuk bicara. Dia bercerita bagaimana perjalanan awalnya di Kemenag saat menjabat dan dilantik menjadi Dirjen Bimas Islam pada tanggal 23 Juni 2006, yang latar belakangnya diminta oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono saat ketemu di KBRI di Amerika.

Di depan hampir semua Pejabat Eselon 1 dan Eselon 2 Kemenag, Nasar juga mengingatkan agar para pejabat Kemenag saling mendukung dan tidak saling melemahkan. Semangat ini tersirat dalam Motto yang telah dirancang para pendiri Kemenag, “Ikhlas Beramal”. Dia berharap di bawah kepemimpinan Lukman hakim Saefuddin, Kemenag akan lebih baik ke depan. “Saya mengenal beliau sebagai orang yang kutu-buku dan arif seperti ayahnya yang juga Mantan Menteri Agama. Ini modal utama”, jelas Rektor Institut PTIQ ini.

Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin merasa bahwa acara ini hakikatnya bukan pelepasan. “Apa yang dilepaskan dari pak Nasar? Beliau sudah menjadi bagian dari kita. Kalau ada rumor bahwa tidak jarang Wamen bagaikan kerikil dalam sepatu bagi Menterinya, tapi buat saya, Pak Nasar sangat membantu”, ucapnya.

Ada yang perlu diingat dan diteladani dari Pak Nasar, menurut Menag. Pertama, tulisan-tulisan beliau yang produktif dan tersebar di berbagai media. Kedua, tentang nilai-nilai, terutama yang berkaitan dengan tugas dan fungsi kita di Kemenag.

Saat pertama kali dilantik menggantikan SDA, Lukman merasakan pegawai Kemenag “ngeblur” -- begitu beliau mengistilahkan -- tidak tampak apa yang harus dilakukannya di Kemenag. Ini sebuah kondisi di mana para pegawai Kemenag kehilangan nilai dalam bekerja. Nah, Pak Nasar telah berkontribusi luar biasa dalam proses kita untuk menggali nilai-nilai itu, tegas Menag secara serius di Operational Room Lantai II Kemenag Banteng. Ke depan akan disosialisasikan 5 (lima) Nilai yang harus dibangun Kemenag, yaitu Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung jawab, dan Keteladanan, terang Lukman di akhir sambutan. (edijun/foto:bimasislam)

sumber: http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/menag-lepas-wamen-pak-nasar-berkontribusi-kembangkan-nilai-nilai-di-kemenag

Senin, 23 Juni 2014

Sam Poo Kong: Akulturasi Budaya Islam-Tiongkok


Dr. H. Ahmad Izzuddin, M. Ag.
(Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat)

Sam Poo Kong adalah klenteng yang menjadi salah satu objek wisata menarik di Semarang. Ia merupakan klenteng jelmaan dari sebuah masjid kuno yang pernah didirikan oleh penjelajah laksamana Tiongkok beragama Islam. Sam Poo kong merupakan sebuah petilasan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok Zheng He atau lebih dikenal dengan nama Cheng Ho. Tanda yang menunjukan bahwa Sam Poo Kong sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an".

Klenteng ini disebut juga dengan klenteng Gedung Batu karena merupakan sebuah Gua Batu besar yang berada pada sebuah Bukit Batu. Menurut Sejarah, Laksamana Cheng Ho yang sedang mengadakan pelayaran melewati pantai laut Jawa untuk tujuan politik dan dagang. Karena ada awak kapal yang merupakan orang kedua dalam armada Cheng Ho yakni Wang Jinghong mengalami sakit keras, Cheng Ho memutuskan untuk merapat ke pantai utara semarang tepatnya di desa Simongan (1401 M). Kemudian ia mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi klenteng Sam Poo Kong. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mangalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi (proses pengendapan yang mengakibatkan pendangkalan) sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara. Dan Klenteng Sam Poo Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong menjadi salah satu bukti peninggalannya.

Cheng Ho berlabuh di Simongan. karena merasa nyaman, ia bermaksud menempati desa tersebut untuk beberapa waktu. Namun, setelah beberapa waktu Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya. Walaupun demikian, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Tak heran sampai sekarang daerah Simongan banyak dihuni oleh penduduk keturunan Tiongkok.

Dalam sejarah Indonesia, nama Laksamana ini dikenal pula dengan nama lain, yaitu : Laksamana Sam Po Kong, Zheng He, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain.

Silsilah  Cheng Ho
Cheng Ho (Zheng He, Ma He, Ma Sanbao atau Haji Mahmud Shams 1371–1435) bin Mi-Li-Jin (Ma Ha Zhi ) bin Mi-Di-Na (Haji) bin Bai-Yan bin Na-Su-La-Ding bin Sau-Dian-Chi (Sayid Syamsuddin atau Sayid Ajall) bin Ma-Ha-Mu-Ke-Ma-Nai-Ding bin Ka-Ma-Ding-Yu-Su-Pu bin Su-Sha-Lu-Gu-Chong-Yue bin Sai-Yan-Su-Lai-Chong-Na bin Sou-Fei-Er (Sayid Syafi'i) bin An-Du-Er-Yi bin Zhe-Ma-Nai-Ding bin Cha-Fa-Er bin Wu-Ma-Er binWu-Ma-Nai-Ding bin Gu-Bu-Ding bin Ha-San bin Yi-Si-Ma-Xin bin Mu-Ba-Er-Sha bin Lu-Er-Ding bin Ya-Xin bin Mu-Lu-Ye-Mi bin She-Li-Ma bin Li-Sha Shi bin E-Ha-Mo-De bin Ye-Ha-Ya bin E-Le-Ho-Sai-Ni bin Xie-Xin bin Yi-Si-Ma-Ai-Le bin Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ali Zainal Abidin) bin Hou Sai-Ni (Sayidina Hussain) bin Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.

Laksamana Chengho ini berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma.

Pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Dinasti Ming di Yunnan sebagai kasim San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian biasa diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen. Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan. Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tiong Hoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Salah satunya tempat yang pernah disinggahinya, Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.     Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana. Dan di kota Semarang terdapat masjid sebagai peninggalannya yang kini berubah menjadi klenteng Sam Poo Kong.

Revolusi Masjid
Masjid tersebut adalah peninggalan dari Laksamana Zheng He/Cheng Ho yang pernah berlabuh di Simongan Semarang karena tujuan tertentu. Alasan Cheng Ho mendirikan masjid, sebab ia merupakan seorang muslim yang taat. Sebagai bukti, ia melaksanakan ibadah haji saat ekspedisi terakhir (1431-1433). Saat itu rombongannya memang singgah di Jeddah. Namun, tatkala Cheng Ho Wafat (1435 M) di Calicut - India dalam pelayaran terakhirnya. Peninggalan tersebut sekarang berubah menjadi tempat pemujaan kepada seoranglaksamana Dinasti Ming (1368-1643) dalam masa pemerintahan Kaisar Yung Lo. Atas dasar mengenang jasa-jasanya supaya tidak terlupakan, sehingga didirikansebuah Klenteng di sekitar gua batu tempat dimana Cheng Ho sering menghabiskan waktu untuk bersemedi, yang akhirnya disebut dengan Klenteng Sam Poo Kong atau Sam Poo Thay Djin.

Orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng - mengingat bentuknya berarsitektur cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Bagian Bangunan Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong Semarang terdiri atas sejumlah anjungan. Bangunan pemujaan utama ialah Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong : tempat - tempat pemujaan Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng.Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting di antara semuanya ,dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan di komplek tersebut  Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan dan dibangun sebagai duplikat tempat yang pernah ditinggali.

Bangunan klenteng merupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda dengan type klenteng yang ada di Pecinan, klenteng ini tidak memiliki serambi atau balai gerbang yang terpisah. Pada bagian tengah terdapat ruang pemujaan Sam Po.Gua batu sebagaimana tersebut di atas terdapat di dekatnya. Facade gua berlukisan sepasang naga dengan bola api yang terletak di tas ambang pintu masuk yang sempit.Klenteng Tho Tee Kong atau Toapekong Tanah atau Ho Tek Tjin Sin yang terletak di belakang pintu gerbang, merupakan yang paling populer.

Di kalangan masyarakat yang agraris, Dewa Bumi ini sangat dihormati dan selalu dimintai berkahnya. Klenteng Cap Kauw King, tempat pemujaan Tho Tee Kong pula, berkaitan dengan klenteng ini. Tidak pula dijumpai serambi seperti pada klenteng di Pecinan. Tempat pemujaan Kyai Jurumudi dipercaya sebagai makam Wang Jing Hong, wakil Zheng Hoo dalam pelayarannya.

Bangunan makam merupakan bangunan sederhana beratap pelana. Pintu masuknya terletak di tengah dan di kedua sisinya terdapat jendela bundar. Di bawah kedua jendela bundar terdapat lukisan berwarna yang mengisahkan perjalanan pelayaran Sam Po.

Anjungan Kyai Jangkar memiliki tiga altar, yaitu altar Hoo Ping, yaitu para pelaut dan pembantu Zheng Ho yang gugur pada saat menunaikan tugasnya; altar Nabi Kong Hu Cu di tengah; dan altar pemujaan mbah Kyai Jangkar di sebelah kanan. Anjungan Kyai Cundrik Bumi merupakan petilasan tempat anak buah Zheng Ho menyimpan segala macam senjata. Sedangkan anjungan Kayi Tumpeng yang terletak di ujung selatan komplek dipercaya sebagai tempat anak buah Zheng Ho bersantap pada masa lalu. Bangunan ini sekarang dipakai untuk bersemedi atau menyepi.

Daya tarik Sam Poo Kong
Indonesia  terkenal dengan  kemajemukan  budaya. Keberagaman suku, agama, dan ras yang terkandung dalam nilai ke-Bhineka-an. Selain itu,  Nusantara memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Kekayaan itu menjadikan Indonesia  selalu menarik untuk  dikunjungi wisatawan.

Dan salah satu tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi adalah Klenteng Sam Poo Kong di desa Simongan sebelah barat daya kota Semarang di bawah naungan Yayasan Klenteng Sam Poo Kong Gedung Batu.Saat Ini, Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, kawasan Klenteng Sam Poo Kong semarang juga menjadi salah satu tujuan wisata lokal di Semarang yang menarik banyak minat wisatawan baik Domestik maupun mancanegara. Pengunjung juga dapat berfoto dengan pakaian ala prajurit Cina di tempat itu sesuai dengan tarif yang telah ditentukan.

Pengunjung/Peziarah yang datang dapat melempar 2 kepingan atau sekumpulan batang bambu ke mulut goa. Jika salah satu kepingan terbuka dan satu kepingan lainnya tertutup, mereka percaya akan memperoleh keberuntungan. Jika batang bambu yang dilemparkan, terjatuh di depan altar, batang bambu tersebut tinggal diserahkan kepada petugas. Petugas akan mengambil selembar kertas bernomor 1 sampai 28, disesuaikan dengan batang bambu yang jatuh. Kertas tersebut berisi syair-syair dengan makna merupakan bagian dari peruntungan nasib pelempar di masa depan, yang akan diterjemahkan oleh sang juru kunci tersebut.

Adapun di sepanjang dinding yang menempel pada goa besar itu terdapat relief yang berkisah tentang rombongan Zheng He (Laksamana Sam Poo Kong), dalam tiga terjemahan bahasa yaitu Inggris, Indonesia dan China. Sam Poo Kong sangat dipuja karena ajaran-ajarannya, diantaranya adalah cara bercocok tanam, tata cara pergaulan hidup, dan cara bersyukur kepada Sang Pencipta alam semesta.

Selain itu, dari terjemahan relief tampak sang Laksamana membina hubungan yang baik dengan Malaysia, terlihat pada dinding kesembilan, Zheng He mengawal Putri Han Li Bao utnuk dipersunting Raja Malaysia, Sultan Mansyur Syah, yang sangat terkenal. Tak mengherankan bila pada Klenteng Sam Poo Kong ada unsur perpaduan antara Budha dan Islam pada beberapa bentuk bangunannya.

Adanya cagar budaya Klenteng Sam Poo Kong di kota Semarang menunjukkan kehidupan berinteraksi antar sesama, dengan mengesampingkan perbedaan - perbedaan. Sebagai tempat wisata yang terpelihara dengan baik , klenteng ini juga memberikan tambahan devisa negara di sektor pariwisata. Sehingga dihimbau masyarakat memelihara Sam Poo Kong. Keberadaan Klenteng Sam Poo Kong  Semarang ini memberikan inspirasi bagi berkembangnya berbagai legenda mengenai Kota Semarang. Tiap tahun bertepatan tanggal 29   Lak Gwee penanggalan Tionghoa, diadakan upacara ritual memperingati hari ulang tahun Sam Poo Tay Djien. Semoga manfaat.

Setiap Pegawai Adalah Humas Kementerian

Sekjen: Setiap Pegawai Adalah Humas Kementerian

Surabaya (Pinmas) —- Sekarang ini, humas Kementerian Agama tidak bisa lagi dipahami sebatas sebagai sebuah jabatan kehumasan. Sebab, setiap pegawai pada dasarnya adalah humasnya Kemenag.
Penegasan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Nur Syam, saat membuka Kegiatan Workshop Peningkatan Kualitas Mutu SDM Kehumasan Di Lingkungan Ditjen Pendidikan Islam, Surabaya (22/06) malam.
Sekjen berharap peran kehumasan Kemenag bisa terus ditingkatkan dan untuk itulah diperlukan upaya peningkatan mutu SDM Kehumasan secara berkelanjutan. Menurutnya, tantangan kehumasan Kemenag ke depan semakin besar dan karenanya diperlukan SDM yang mampu memberikan respon positif bagi setiap dinamika yang terkait dengan kementerian.
“Humas kita belum responsif terhadap kenyataan di sekitar kita,” terang Nur Syam sembari mencontohkan minimnya informasi yang membangun atas kejadian kekerasan keagamaan yang terjadi di Yogyakarta baru-baru ini.
Ditambahkan Nur Syam, fungsi kehumasan yang sejatinya melekat pada setiap pegawai Kementerian Agama juga belum mampu membangun image positif tentang Kementerian. Peristiwa adanya alumni program studi PGMI yang ditolak ikut mendaftar CPNS untuk formasi Guru SD, lanjut Nur Syam, adalah contoh kurangnya informasi positif yang diperoleh masyarakat tentang prodi PGMI tersebut.
Selain kedua hal di atas, Nur Syam juga menggarisbawahi tentang pentingnya mengoptimalkan peran dan fungsi kehumasan sebagai “pabrik” berita/informasi. Sejalan dengan itu, Nur Syam menekankan pentingnya keterbukaan dan kesediaan semua pihak, khususnya  pada pejabat Eselon II dan III Ditjen Pendis, untuk  menjadi sumber informasi yang konstruktif untuk bisa disosialisasikan kepada masyarakat luas.
“Pimpinan Kemenag agar memperhatikan peran kehumasan di lingkungan masing-masing dan memperkuat jaringan komunikasi, khususnya dengan media massa,” kata Nur Syam.
Dalam kesempatan lain, Kabag Umum Setditjen Pendidikan Islam, Nurul Huda, M.Ag. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh pejabat dan pegawai kehumasan dari PTAIN (UIN, IAIN dan STAIN). (eNHa/mkd/mkd)

sumber: kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=198944

Selamat Datang

Selamat Datang di Kantor Urusan Agama Kec. Patebon Kab. Kendal
Siap Melayani Anda dengan Penuh Keikhlasan dan Keramahan