Dr. H. Ahmad Izzuddin, M. Ag.
(Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat)
Sam
Poo Kong
adalah klenteng yang
menjadi salah satu objek wisata menarik di Semarang.
Ia merupakan klenteng jelmaan dari sebuah masjid kuno yang
pernah didirikan oleh penjelajah laksamana Tiongkok beragama Islam. Sam
Poo kong merupakan sebuah petilasan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok Zheng He
atau lebih dikenal dengan nama Cheng Ho.
Tanda yang
menunjukan bahwa Sam
Poo Kong
sebagai bekas petilasan yang
berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "
Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an".
Klenteng ini disebut juga dengan klenteng Gedung Batu karena merupakan sebuah Gua Batu besar yang
berada pada sebuah Bukit Batu.
Menurut Sejarah,
Laksamana Cheng Ho yang
sedang mengadakan pelayaran melewati pantai laut Jawa untuk tujuan politik dan dagang.
Karena ada awak kapal yang
merupakan orang kedua dalam armada Cheng Ho
yakni Wang
Jinghong mengalami sakit keras, Cheng Ho
memutuskan untuk merapat ke pantai utara semarang tepatnya di desa Simongan (1401 M).
Kemudian ia mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang
sekarang telah berubah fungsi menjadi klenteng Sam
Poo Kong.
Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mangalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi (
proses pengendapan yang
mengakibatkan pendangkalan)
sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara. Dan
Klenteng Sam
Poo Kong (
Gedung Batu)
serta patung yang
disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong
menjadi salah satu bukti peninggalannya.
Cheng Ho berlabuh di Simongan. karena merasa nyaman, ia bermaksud
menempati desa tersebut untuk beberapa waktu. Namun, setelah beberapa
waktu Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan
pelayarannya. Walaupun demikian, banyak awak kapalnya yang tinggal di
desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan
berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam
serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Tak heran sampai sekarang daerah
Simongan banyak dihuni oleh penduduk keturunan Tiongkok.
Dalam sejarah Indonesia, nama Laksamana ini dikenal pula dengan nama
lain, yaitu : Laksamana Sam Po Kong, Zheng He, Sam Po Toa Lang, Sam Po
Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain.
Silsilah Cheng Ho
Cheng Ho (Zheng He, Ma He, Ma Sanbao atau Haji Mahmud
Shams 1371–1435) bin Mi-Li-Jin (Ma Ha Zhi ) bin Mi-Di-Na (Haji) bin
Bai-Yan bin Na-Su-La-Ding bin Sau-Dian-Chi (Sayid Syamsuddin atau Sayid
Ajall) bin Ma-Ha-Mu-Ke-Ma-Nai-Ding bin Ka-Ma-Ding-Yu-Su-Pu bin
Su-Sha-Lu-Gu-Chong-Yue bin Sai-Yan-Su-Lai-Chong-Na bin Sou-Fei-Er (Sayid
Syafi'i) bin An-Du-Er-Yi bin Zhe-Ma-Nai-Ding bin Cha-Fa-Er bin
Wu-Ma-Er binWu-Ma-Nai-Ding bin Gu-Bu-Ding bin Ha-San bin
Yi-Si-Ma-Xin bin Mu-Ba-Er-Sha bin Lu-Er-Ding bin Ya-Xin bin
Mu-Lu-Ye-Mi bin She-Li-Ma bin Li-Sha Shi bin E-Ha-Mo-De bin Ye-Ha-Ya bin
E-Le-Ho-Sai-Ni bin Xie-Xin bin Yi-Si-Ma-Ai-Le bin Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ali
Zainal Abidin) bin Hou Sai-Ni (Sayidina Hussain) bin Sayyidatina
Fatimah binti Rasulullah SAW.
Laksamana Chengho ini berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa
minoritas Tionghoa. Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim
Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran,
serta perkembangan Islam di Nusantara. Cheng Ho (1371 – 1435) adalah
pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi Yunnan di Asia
Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan
ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma.
Pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Dinasti Ming
di Yunnan sebagai kasim San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian biasa
diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He
(nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan
anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen. Pangeran dari Yen, Chung Ti,
tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan taat beribadah.
Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda
pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting
sebagai Admiral Utama dalam angkatan perang.
Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, Cheng Ho diangkat menjadi admiral
utama armada laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan.
Sebagai admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia
Barat Daya dan Asia Tenggara.
Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih
selama 28 tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta
mengenai geografi lautan. Selain itu, Cheng Ho sebagai muslim Tiong Hoa,
berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara dan kawasan
Asia Tenggara.
Salah satunya tempat yang pernah disinggahinya, Cheng Ho mengunjungi
kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia
memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini
tersimpan di museum Banda Aceh. Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di
Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas
Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring
yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan
Cirebon. Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa
pemerintahan raja Wikramawardhana. Dan di kota Semarang terdapat masjid
sebagai peninggalannya yang kini berubah menjadi klenteng Sam Poo Kong.
Revolusi Masjid
Masjid tersebut adalah peninggalan dari Laksamana Zheng He/Cheng Ho yang
pernah berlabuh di Simongan Semarang karena tujuan tertentu. Alasan
Cheng Ho mendirikan masjid, sebab ia merupakan seorang muslim yang taat.
Sebagai bukti, ia melaksanakan ibadah haji saat ekspedisi terakhir
(1431-1433). Saat itu rombongannya memang singgah di Jeddah. Namun,
tatkala Cheng Ho Wafat (1435 M) di Calicut - India dalam pelayaran
terakhirnya. Peninggalan tersebut sekarang berubah menjadi tempat
pemujaan kepada seoranglaksamana Dinasti Ming (1368-1643) dalam
masa pemerintahan Kaisar Yung Lo. Atas dasar mengenang jasa-jasanya
supaya tidak terlupakan, sehingga didirikansebuah Klenteng di sekitar
gua batu tempat dimana Cheng Ho sering menghabiskan waktu untuk
bersemedi, yang akhirnya disebut dengan Klenteng
Sam Poo Kong atau
Sam Poo Thay Djin.
Orang Indonesia
keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng -
mengingat bentuknya berarsitektur cina sehingga mirip sebuah kelenteng.
Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah.
Untuk keperluan tersebut,
di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar,
serta patung-patung Sam Po
Tay Djien.
Padahal laksamana cheng ho
adalah seorang muslim,
tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal
ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong
Hu Cu
atau Tau
menganggap orang yang
sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
Bagian Bangunan Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong Semarang terdiri
atas sejumlah anjungan. Bangunan pemujaan utama ialah Klenteng Besar
dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong : tempat - tempat pemujaan
Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai
Tumpeng.Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting di
antara semuanya ,dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan di
komplek tersebut Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini
dipercaya sebagai petilasan dan dibangun sebagai duplikat tempat yang
pernah ditinggali.
Bangunan klenteng merupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda
dengan type klenteng yang ada di Pecinan, klenteng ini tidak memiliki
serambi atau balai gerbang yang terpisah. Pada bagian tengah terdapat
ruang pemujaan Sam Po.Gua batu sebagaimana tersebut di atas terdapat di
dekatnya. Facade gua berlukisan sepasang naga dengan bola api yang
terletak di tas ambang pintu masuk yang sempit.Klenteng Tho Tee Kong
atau Toapekong Tanah atau Ho Tek Tjin Sin yang terletak di belakang
pintu gerbang, merupakan yang paling populer.
Di kalangan masyarakat yang agraris, Dewa Bumi ini sangat dihormati dan
selalu dimintai berkahnya. Klenteng Cap Kauw King, tempat pemujaan Tho
Tee Kong pula, berkaitan dengan klenteng ini. Tidak pula dijumpai
serambi seperti pada klenteng di Pecinan. Tempat pemujaan Kyai Jurumudi
dipercaya sebagai makam Wang Jing Hong, wakil Zheng Hoo dalam
pelayarannya.
Bangunan makam merupakan bangunan sederhana beratap pelana. Pintu
masuknya terletak di tengah dan di kedua sisinya terdapat jendela
bundar. Di bawah kedua jendela bundar terdapat lukisan berwarna yang
mengisahkan perjalanan pelayaran Sam Po.
Anjungan Kyai Jangkar memiliki tiga altar, yaitu altar Hoo Ping, yaitu
para pelaut dan pembantu Zheng Ho yang gugur pada saat menunaikan
tugasnya; altar Nabi Kong Hu Cu di tengah; dan altar pemujaan mbah Kyai
Jangkar di sebelah kanan. Anjungan Kyai Cundrik Bumi merupakan petilasan
tempat anak buah Zheng Ho menyimpan segala macam senjata. Sedangkan
anjungan Kayi Tumpeng yang terletak di ujung selatan komplek dipercaya
sebagai tempat anak buah Zheng Ho bersantap pada masa lalu. Bangunan ini
sekarang dipakai untuk bersemedi atau menyepi.
Daya tarik Sam Poo Kong
Indonesia terkenal dengan kemajemukan budaya. Keberagaman suku,
agama, dan ras yang terkandung dalam nilai ke-Bhineka-an. Selain itu,
Nusantara memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Kekayaan itu
menjadikan Indonesia selalu menarik untuk dikunjungi wisatawan.
Dan salah satu tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi adalah
Klenteng Sam Poo Kong di desa Simongan sebelah barat daya kota Semarang
di bawah naungan Yayasan Klenteng Sam Poo Kong Gedung Batu.Saat Ini,
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, kawasan Klenteng Sam Poo Kong
semarang juga menjadi salah satu tujuan wisata lokal di Semarang yang
menarik banyak minat wisatawan baik Domestik maupun mancanegara.
Pengunjung juga dapat berfoto dengan pakaian ala prajurit Cina di tempat
itu sesuai dengan tarif yang telah ditentukan.
Pengunjung/Peziarah yang datang dapat melempar 2 kepingan atau
sekumpulan batang bambu ke mulut goa. Jika salah satu kepingan terbuka
dan satu kepingan lainnya tertutup, mereka percaya akan memperoleh
keberuntungan. Jika batang bambu yang dilemparkan, terjatuh di depan
altar, batang bambu tersebut tinggal diserahkan kepada petugas. Petugas
akan mengambil selembar kertas bernomor 1 sampai 28, disesuaikan dengan
batang bambu yang jatuh. Kertas tersebut berisi syair-syair dengan makna
merupakan bagian dari peruntungan nasib pelempar di masa depan, yang
akan diterjemahkan oleh sang juru kunci tersebut.
Adapun di sepanjang dinding yang menempel pada goa besar itu terdapat
relief yang berkisah tentang rombongan Zheng He (Laksamana Sam Poo
Kong), dalam tiga terjemahan bahasa yaitu Inggris, Indonesia dan China.
Sam Poo Kong sangat dipuja karena ajaran-ajarannya, diantaranya adalah
cara bercocok tanam, tata cara pergaulan hidup, dan cara bersyukur
kepada Sang Pencipta alam semesta.
Selain itu, dari terjemahan relief tampak sang Laksamana membina
hubungan yang baik dengan Malaysia, terlihat pada dinding kesembilan,
Zheng He mengawal Putri Han Li Bao utnuk dipersunting Raja Malaysia,
Sultan Mansyur Syah, yang sangat terkenal. Tak mengherankan bila pada
Klenteng Sam Poo Kong ada unsur perpaduan antara Budha dan Islam pada
beberapa bentuk bangunannya.
Adanya cagar budaya Klenteng Sam Poo Kong di kota Semarang menunjukkan
kehidupan berinteraksi antar sesama, dengan mengesampingkan perbedaan -
perbedaan. Sebagai tempat wisata yang terpelihara dengan baik , klenteng
ini juga memberikan tambahan devisa negara di sektor pariwisata.
Sehingga dihimbau masyarakat memelihara Sam Poo Kong. Keberadaan
Klenteng Sam Poo Kong Semarang ini memberikan inspirasi bagi
berkembangnya berbagai legenda mengenai Kota Semarang. Tiap tahun
bertepatan tanggal
29 Lak Gwee penanggalan Tionghoa,
diadakan upacara ritual
memperingati hari ulang tahun Sam
Poo Tay Djien.
Semoga manfaat.